Bali: Pesona Swastiastu-Insan Mandiri

Cerita tentang Swastiastu adalah kisah yang nyaris tidak pernah senyap dalam kenangan para alumninya. Kisah itu bermula dari sebuah petuah Injil yang berpesan "Pergilah dan ajarlah segala bangsa...." Penggalan pesan perutusan itu menginspirasi para misionaris melintas benua menuju Bali. Petuah Injil warisan Nabi Isa Almasih itu seakan menjadi penyemangat para misionaris pionir yang datang ke tanah misi. Pergilah dan ajarlah adalah dua kata yang memotivasi para pewarta Injil untuk memikirkan pendidikan sebagai salah satu pilar pewartaan. Dalam tafsiran yang sederhana dapat dipahami sebagai pesan untuk terlibat di dalam dunia pendidikan melalui sekolah. Jelaslah bahwa di mana saja para misionaris pionir itu hadir, mereka sekaligus datang dan hadir membawa misi pendidikan. Bagi para misionaris pendidikan adalah sarana pertama dan terutama dalam pewartaan Injil. Tak heran kalau di hampir semua keuskupan di Indonesia, pastoral pendidikan menjadi strategis poros dan misi para misionaris itu. Begitu pula ketika para misionaris menginjakkan kakinya di Pulau Bali.

Perkembangan pendidikan di Bali dan NTB umumnya sejalan dengan masuknya para misionaris. Dalam catatan sejarah Bali, pada tahun 1635 para misionaris Jesuit yang tengah berkarya di Malaka diundang untuk datang ke Bali guna mengembangkan pendidikan. Dalam laporan selanjutnya tak pernah disinggung perihal kedatangan para misionaris Jesuit itu. Laporan itu menunjukkan tidak ada follow up apakah para Jesuit memenuhi undangan tersebut atau tidak. Hingga kemudian dalam laporan sejarah dituturkan bahwa Zending Protestan dari Amerikalah yang pertama memulai karya mereka di Pulau Bali.

Perekembangan pendidikan di Pulau Bali, kita harus melongok sejarah misi Gereja Katolik di Bali. Tahun 1935 para misionaris Katolik dari Flores memulai karya misi mereka di Pulau Bali. Gereja Katolik Bali pada awalnya menjadi bagian dari Gereja Diaspora Flores. Gereja Diaspora meliputi Sunda Kecil, termasuk di dalamnya Bali, Lombok, Sumba dan Sumbawa. Namun, berdasarkan UU Kolonial Belanda, para misionaris Katolik boleh masuk ke Bali hanya untuk melayani orang-orang Katolik Belanda. Oleh karena larangan UU Pemerintah Belanda tersebut, pelayanan para misionaris hanya sampai di wilayah Lombok.

Lambat laun rupanya pemerintahan Kolonial Belanda memudahkan ijin kepada para misionaris yang sedang mengemban misi di Lombok dan memperkenankan mereka masuk ke Bali. Tuka, adalah wilayah pertama misi Katolik mulai membangun basisnya. Para misionaris pionir di Tuka sudah memikirkan untuk mendirikan suatu sekolah. Arah dasar pendirian sekolah dimaksudkan untuk membantu penyebaran misi.

Meski mengalami kendala tenaga guru, para misionaris akhirnya mendirikan Sekolah Dasar (SR) di Tuka pada tanggal 1 Agustus 1949. Waktu itu sejumlah tokoh awam terlibat langsung dalam upaya pencarian murid-murid. Mereka adalah I Made Branang (alm), I Made Diblug, I Made Tangkeng (alm) dan 1 Nyoman Regeg (alm). Mereka keluar masuk kampung untuk mencari murid-murid untuk SDK yang ketika itu bernama Sekolah Rakyat (SR) Katolik yang merupakan SDK pertama di Pulau Bali khususnya di wilayah pedesaan. Lalu tahun 1953 tepatnya 1 Agustus berdiri SMP Katolik pertama di Pulau Bali yang terletak di desa. Sementara di Kota Denpasar hanya ada 1 SMP yakni SMP Negeri. Letaknya yang strategis di desa, membawa dampak anak-anak Bali yang berada di desa masuk SMP yang waktu itu bergabung dengan Seminari Menengah Roh Kudus. Untuk pembagian kelasnya kemudian dibagi kelas A dikhususkan untuk siswa-siswa Seminari sedangkan kelas B diperuntukkan bagi awam. Salah seorang alumni perdana sekolah ini yang kemudian menjadi imam pertama pulau Bali adalah Pater Servatius Subhaga, SVD. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1960 di Padangtawang didirikan sebuah SD yang hanya terdiri dari kelas 1 sampai kelas V, sedangkan kelas VI kemudian bergabung dengan SDK Tuka.

Mendirikan sekolah, tak hanya sekadar tekad. Para misionaris pun memikirkan bagaimana sekolah ini bisa berkembang dengan baik. Tenaga-tenaga pendidik, para guru perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh hingga mereka di kemudian hari bisa ikut mengembangkan misi pendidikan ini. Mereka lalu mengirimkan tenaga-tenaga muda untuk dididik menjadi guru di pulau Jawa, Flores dan Manado. Sekembali dari pendidikan guru, para guru muda itu mulai mengajar di berbagai tempat, lalu bersama para misionaris mendirikan sekolah- sekolah. Misalnya di Palasari beberapa tahun kemudian didirikan SDK Budi Rahayu, menyusul sekolah-sekolah yang lain. Seluruh proses misi pewartaan melalui sekolah ini adalah persinggungan antara gereja dan sekolah seiring sejalan.

Saat itu gereja mulai merintis karya pewartaan, bersamaan dengan didirikannya sekolah-sekolah. Inilah pesan misioner dari para misionaris di Bali melalui lembaga pendidikan sekolah.

Perkembangan dunia pendidikan berjalan terus. Satu demi satu sekolah bertambah di mana-mana di wilayah Keuskupan Denpasar meliputi wilayah Bali dan NTB. Sekolah-sekolah yang awalnya ditangani pihak keuskupan, dalam hal ini pastor paroki masing-masing, rupanya dirasakan kurang efektif karena perhatian pastor paroki rupanya tidak terfokus pada pelayanan paroki, sehingga berdampak pada pelayanan pastoral dalam bidang pendidikan sekolah sering terabaikan. Menghadapi situasi macam ini, pihak keuskupan kemudian memikirkan suatu jalan keluar untuk mengatasi kemandegan roda pendidikan ini dengan mengupayakan satu yayasan yang secara profesional mengelola seluruh sekolah. Maka atas prakarsa Mgr. Hermens dan Pater Herman Embuiru, SVD bersama Bapak Mayor Tjokorda Gde Oka Sudharsana, R.B.J. Thahjono, Sr. Alfonsa, OSF, Sr. Leonarda, OSF. Sr. Seraphine, OSF, St. Theresia, Sr. Bonaventura, OSF, B. Yan Tabal, PY. Sunarta, Piet Wayan F Lamun, Y.B. Soetikno, Paulus I Ketut Dongker dan Freddie Fransiskus Asisi Angkasa atau yang biasa dipanggil Fredy Ang (Ang Tiauw Sing) serta beberapa tokoh awam Katolik mendirikan Yayasan Insan Mandiri yang ketika itu bernama Yayasan Swastiastu. Selanjutnya oleh Mgr. Paulus Sani Kleden, SVD yang ketika itu menggantikan Mgr. Hermens. menyerahkan sepenuhnya yayasan ini kepada Pater Herman Embuiru.

Walaupun dalam catatan pendirian Yayasan Swastiastu nama-nama yang disebutkan berjasa sebagai penggagas berdirinya yayasan, perlulah dipaparkan di sini informasi singkat tentang hari lahir Yayasan Swastiastu maupun para pengurus yang mewakili dewan pendiri untuk menandatangani akta pendirian.

Yayasan ini secara de facto, mulai berdiri pada 15 Agustus 1958, akan tetapi secara de jure-nya akta pendirian Yayasan Swastiastu baru dikeluarkan pada tanggal 27 Agustus 1958 Nomor 54 dikeluarkan oleh Kantor Notaris Merangkap Ida Bagus Ketut Rurus yang berkantor di Jalan Surapati, Denpasar. Akta pendirian Yayasan Swastiastu ini dihadiri oleh saksi-saksi seperti; Bernardus Paulus Palus, BA (Jaksa Pengadilan Negeri Denpasar), Albertus Fransiskus Sri Rachmahie (Kepala Tata Usaha Kursus Dagang Pertengahan Negeri di Denpasar) dan Bernardus Fransiskus Abdul Salam (pedagang, tinggal di Denpasar). Ketiga saksi tersebut secara sukarela memberikan sanksi dan penguatan bagi berberdirinya Yayasan Swastiastu yang Akta pendirian yayasan ini ditandatangani oleh para pendirinya, yakni: Johan Willem Ingkiriwang (Kepala Dinas Sedjarah Militer Angkatan Darat K.D.M.H.T, Denpasar), Bernardus Thomas Soegito (Penata Siaran Radio RI Studio Denpasar), Markus Ranggamone (Anggauta Isnpeksi Keuangan K.D.M.H.T, Denpasar), Fransiskus Ang Tiauw Sing (Pedagang, Denpasar), Josep Putu Arwik (Wakil Direksi Wilajah Tabanan), Njonja Frederika Kopalit-Rumbajan (Partikelir, Denpasar), Njonja Turpijn (Partikelir, Denpasar), Josef Yap King Hwie (Pedagang, Denpasar), dan Johannes Heyne (SVD) (Pastor paroki di Denpasar).

Berdasarkan akta pendirian Yayasan, nama-nama berikut ini yang ditunjuk dalam akta notaris sebagai Badan Pengurus Jajasan Swastiastu pertama. Mereka terdiri dari:
Ketua: Bernardus Paulus Palus, B.A
Wakil Ketua: Johan Willem Ingkiriwang
Sekretaris: Bernarus Thomas Soegito
Sekretaris II: Albertus Fransiskus Sri Rachmadhie
Bendahara: Bernardus Fransiskus Abdul Salam
Seksi Usaha: Markus Ranggamone dan Fransiskus Ang Tiauw Sing
Pendiri-pendiri:
Josef Putu Arwik,
Frits Pangkarego,
Njonja Frederika Kopalit-Rumbajan,
Njonja Turpijn,
Josef Yap King Hwie,
Penasehat: Pendiri Pastor Johannes Heyne, SVD.

Pengurus Yayasan terhitung mulai tanggal 01 Januari 1972 terdiri dari:
Ketua: Josef Harjadi Poerwoputranto (Pastor, Jl. Rambutan No. 21 Denpasar)
Sekretaris: Sr. Maria Hermine (Guru)
Bendahara: Pastor Herribert Ballhorn (Palasari)
Anggota:
• Pastor Hendrikus Gierlings (Ampenan, Lombok)
• Pastor Marsel Gede Miyarsa (Mataram, Lombok)
• Pastor Marsel Sega (Singaraja)
• Pastor Paulus Boli Lamak (Denpasar).

Dalam perjalanan selanjutnya terjadi Perubahan Anggaran Dasar Yayasan Swastiastu tersebut dalam akta tanggal 14 Juli 1986 No. 80 di hadapan Notaris Ketut Rames Iswara, SH. perubahan akta ini terjadi di hadpan Notaris Amir Sjarifuddin, JI. Durian No. 28 Denpasar dengan Akta bernomor 31, bertanggal 11 Oktober 1973 tentang Perubahan Yayasan Swastiastu. Meski sudah berdiri sejak tahun 1958, nama itu baru mulai populer digunakan ke semua sekolah baru digunakan pada tahun 1966. Perlu dicatat bahwa pada awalnya Yayasan Swastiastu waktu itu ada hanya meliputi wilayah kota Denpasar saja. Sedangkan di wilayah lain belum digunakan karena waktu itu semua sekolah umumnya masih di bawah Keuskupan yang dalam pelaksanaannya dikelola oleh masing-masing paroki dan pastor paroki bertanggungjawab atas semua penyelenggaraan sekolah. Kewajiban keuskupan ialah membayar gaji. Dalam perjalanan selanjutnya barulah semua digabungkan dengan Yayasan Swastiastu.

Sebagai contoh, untuk sejumlah dokumen surat-surat keluar at penugasan lainnya pada tahun 1961 Pastor Herman Embuiru yang waktu itu selaku ketua Yayasan Swastiastu belum menggunakan nama Swastiastu. Dalam salah satu dokumen, Pastor Herman mengeluarkan Surat Putusan Pengurus Sekolah Katolik Bali, 18 Agustus 1961 untuk kenaikan gaji dan pangkat. Dan baru pada 16 Djuli 1963 dalam surat-suratPengurus Sekolah Katolik Bali tidak dipakai lagi, tapi sudah digunakan Djajasan Swastiastu.

Dari Swastiastu ke Insan Mandiri

Nama Swastiastu diberikan oleh Dr. Gorys, seorang ahli bahasa Sansekerta berkebangsaan Belanda. Swastiastu berarti Salam. Oom Swastiastu. Sama dengan Assalamualaikum atau Syaloom yang berarti "semoga Tuhan memberkati kita." Kata Oom tidak dipakai. Hanya Swastiastu. Oom berasal dari Brahma, Wisnu, Siwa. Ang Om Man dari kata Aum (baca Oom). Dalam istilah Hindu disebut dengan nama Trimurti.

Namun nama yayasan yang ketika itu sudah berusia 42 tahun dan melekat erat dalam benak nurani pada alumninya dan masyarakat Bali pada umumnya, mau tak mau mesti diganti dengan nama lain. Sudah melekat akrab dalam benak semua alumni dan masyarakat Bali umumnya, mesti segera diganti.

Hembusan angin reformasi sejak 1998 membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalamnya tuntutan perubahan nama Yayasan Swastiastu. Meski hanya sebagian kecil orang. namun amat terasa keras arus tuntutan itu, yang pada akhirnya menghendaki supaya istilah Swastiastu itu jangan dipakai di luar kepentingan agama Hindu. Memang kita juga menyadari bahwa kebanyakan alumni sekolah-sekolah Swastiastu berasal dari kalangan Hindu yang tidak setuju dengan desakan kelompok-kelompok tertentu itu untuk mengganti nama tersebut. Mereka keberatan kalau nama yang sudah akrab dan populer bahkan menjadi ciri khas almamater itu diganti. Argumen para alumni ini cukup beralasan. Bagi mereka nama ini justru dipakai untuk suatu kepentingan pendidikan dan bukan untuk suatu kepentingan dan keperluan bisnis lain, mengapa mesti diganti? Akan tetapi, demi kerukunan, kita rela mengubah nama tersebut. Maka ketika Romo Hubert Hady Setiawan menjabat Administrator Keuskupan Denpasar, beliau meminta Pater Mariatma, SVD untuk membuat usulan beberapa nama yang bisa dipertimbangkan dalam rapat keuskupan dan kemudian mengganti nama Swastiastu.

Ada sejumlah nama yang saya sarankan waktu itu, antara lain Adonae, dan lain sebagainya termasuk nama Insan Mandiri yang akhirnya dipilih sebagai pengganti Swastiastu. "Dalam soal pergantian nama macam ini kita memang tidak kaku. Ada kemungkinan suatu ketika bisa saja berubah lagi, misalnya saja sekarang dengan UU Yayasan yang

menyebutkan bahwa nama yayasan tidak boleh dobel dan sedang digodok bersama Departemen Pendidikan Nasional dan Dephum dan HAM RI. Nah, hal macam ini sangat mungkin bisa terjadi. Karena itu kita terbuka untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depan," tandas Pater Mariatma.

Karena itu, seluruh akta yayasan mesti diganti. Maka perubahan nama Swastiastu menjadi Insan Mandiri secara resmi diganti pada Selasa, 01 Februari 2000 dengan Akte Perubahan No. 1 tentang Perubahan Anggaran Dasar Yayasan Swastiastu di hadapan Notaris Ketut Rames Iswara, SH. Perubahan Anggaran Dasar tersebut oleh Yayasan diwakili masing-masing Suster Maris Julia Sri Mardinah dan Cornelius Wayan Westa serta Romo Hubertus Hady Setiawan, Pr yang ketika itu menjabat sebagai Administrator Keuskupan Denpasar. Untuk suatu tujuan baik bersama, dan demi suatu kerukunan bersama, pergantian nama dilakukan, meski nama itu sudah akrab di lingkungan masyarakat luas. Dulu semua sekolah namanya sama, yakni Swastiastu, sekarang setiap sekolah di setiap wilayah namanya berdasarkan santo atau santa pelindung. Misalnya, sekolah-sekolah yang berada di wilayah Tangeb dan sekitarnya diberi nama pelindung Thomas Aquino, di kota Denpasar dengan nama pelindung Santo Yosef, di Singaraja pelindungnya SantoPaulus, di Palasari namanya Dirgahayu, di Lombok namanya Kusuma.

Kekuatan misi dulu terletak pada guru-guru. Ketika para misionaris datang mereka mesti belajar dulu untuk bisa mengajar. Jadi salah satu modal dasar mereka datang ke daerah misi adalahmengajar. Selanjutnya untuk mengembangkan misi ini mereka mempersiapkan awam. Dan awam inilah yang kemudian berperan penting dalam dunia pendidikan. Mereka mempersiapkan awam hingga menjadi guru. Menjadi pengajar yang kemudian diutus ke seluruh pelosok daerah.

Perlu dipahami bahwa sekolah ada lebih dahulu daripada yayasan. Waktu itu ada beberapa sekolah. Sekolah-sekolah ini adalah sekolah-sekolah desa yang didirikan oleh para misionaris. Mereka berangkat ke tanah misi dengan suatu spirit dasar dari Injil “Pergilah ke seluruh penjuru dunia dan ajarkanlah segala bangsa.” Pesan ini bagi mereka, tanpa sadar dipahami sebagai mengajar di sekolah. Di mana mereka datang dan mulai mengemban misi di situ mereka mulai dengan mendirikan sekolah. Maka yang terjadi ialah sekolah-sekolah di Bali mulai dari desa. Karena misi di Bali memang dimulai dari desa. Di Bali, Tuka menjadi desa pertama di mana para misionaris mulai mendirikan sekolah. SD atau sekolah rakyat (SR) dimulai tahun 1949 dan baru mulai beroperasi tahun 1950. Kemudian di Palasari SD didirikan pada tahun 1954 dengan nama SR (sekarang SD) Katolik Dirgahayu. Kemudian SMK (Sekolah Menengah Katolik) sekarang SMPK Tangeb 1953. Namun perlu dicatat bahwa warna pertama dari SMK Tangeb ini adalah dimaksudkan untuk seminari. Kini ada unit sekolah yang bernaung dibawah Yayasan Insan Mandiri.

Tahun 1958 mulai dibangun SR di kota Denpasar, akan tetapi menurut peraturan waktu itu sekolah-sekolah yang ada di kota harus dengan badan hukum. Nah, dari sanalah berdiri Yayasan Swastiastu untuk melindungi sekolah di kota Denpasar, perlahan-lahan sekolah-sekolah yang di Tuka yang berlindung dibawah Keuskupan akhirnya dialihkan dan bernaung dibawah Yayasan, termasuk pula yayasan yang berada di wilayah Pulau Lombok juga berada dibawah Perfectus Apostolik Bali semuanya kemudian bernaung di bawah yayasan. Sebelumnya sekolah-sekolah yang berada di luar kota Denpasar dan yang berada dibawah keuskupan bernama Pengurus Sekolah Katolik Bali. Barulah pada 16 Juli 1966 nama Djajasan Swastiastu dipergunakan untuk semua sekolah di seluruh Keuskupan Denpasar.

Nama Swastiastu itu meski sudah tak pernah digunakan secara resmi, tapi ia tak pernah lenyap ditelan gegap gemuruh reformasi. Nama itu semakin membatin dalam sanubari pada pencintanya. Nama yang telah mengantarkan para alumninya menjadi Generasi Insan Mandiri. Nama tak lagi menjadi penting. Hal terpenting adalah spirit yang menjiwai setiap pribadi dalam perjalanan panjang melewati waktu. Generasi penerus Insan Mandiri yang memiliki karakter Disiplin, Jujur, Terampil dan Mandiri.